Minggu, 23 Desember 2012

Pacaran? Ta'aruf sambil Pacaran? Pacaran Islami?


بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم و رحمة الله و بركاته

ALHAMDULILLAH, SEGALA PUJA-PUJI HANYA MILIK ALLAH SWT. YANG TERUS MEMBERI KITA NIKMAT-NIKMATNYA YANG TIADA TERPUTUS.
SHALAWAT SERTA SALAM TAK LUPA PULA SELALU KITA HATURKAN KEPADA USWATUN HASANAH RASULULLAH MUHAMMAD SAW. SERTA PARA KELUARGA, SAHABAT DAN PENGIKUTNYA HINGGA AKHIR ZAMAN.



Begini ukhwatifillah rahimakumullah, di zaman sekarang kita selalu temui fenomena anak muda yang disebut "pacaran". ya, umumnya ini terjadi pada remaja yang mulai memiliki rasa tertarik pada lawan jenisnya, namun salah mengartikan pacaran sebagai media rasa tertariknya itu. pacaran sendiri serin dikaitkan dengan zina, maka itu, supaya tidak terjerumus lebih jauh, yuk, akhi ukhti kita bahas disini :)

Pacaran dari Sudut Pandang Islam
Nah, akhi ukhti, mungkin antum sekalian udah menemukan di beberapa artkel lain mengenai hal ini. dalam Islam, pacaran ditakutkan menjadi media untuk berzina. ya, pacaran dapat membujuk untuk menerjang larangan Allah dan melalaikan perintah Allah. Dimulai dari pandangan, mata yang saling menatap menimbulkan rasa tertarik atau yang disebut naksir bukan cinta. Timbullah "dari mata turun ke hati", mulailah terpacu untuk mendekati dan mendapat perhatian dari yang ditaksir itu. sms, surat cinta, telepon, social media, semuanya diladeni demi berhubungan dengan "dia". Mulai mengenal lebih dekat, bertemu-bertatapan, bergandeng tangan, berdua menyepi, saling merayu. Inilah yang ditakutkan oleh Islam dari berpacaran. seperti sabda Rasulullah saw berikut:

“Ditetapkan atas anak Adam bagiannya dari zina, akan diperolehnya hal itu, tidak bisa tidak. Kedua mata itu berzina, zinanya dengan memandang. Kedua telinga itu berzina, zinanya dengan mendengarkan. Lisan itu berzina, zinanya dengan berbicara. Tangan itu berzina, zinanya dengan memegang. Kaki itu berzina, zinanya dengan melangkah. Sementara itu, hati berkeinginan dan beranganangan sedangkan kemaluan yang membenarkan itu semua atau mendustakannya.” (H.R. Muslim: 2657, alBukhori: 6243)
Al Imam an Nawawi rahimahullah berkata: “Makna hadits di atas, pada anak Adam itu ditetapkan bagiannya dari zina. Di antara mereka ada yang melakukan zina secara hakiki dengan memasukkan farji (kemaluan)nya ke dalam farji yang haram. Ada yang zinanya secara majazi (kiasan) dengan memandang wanita yang haram, mendengar perbuatan zina dan perkara yang mengantarkan kepada zina, atau dengan sentuhan tangan di mana tangannya meraba wanita yang bukan mahromnya atau menciumnya, atau kakinya melangkah untuk menuju ke tempat berzina, atau melihat zina, atau menyentuh wanita yang bukan mahromnya, atau melakukan pembicaraan yang haram dengan wanita yang bukan mahromnya dan semisalnya, atau ia memikirkan dalam hatinya. Semuanya ini termasuk zina secara majazi.” (Syarah Shohih Muslim: 16/156157)
Nah, seperti yang kita tahu, haram=dosa. Maka adakah dari pacaran kita senantiasa menahan pandangan dari "dia" ? sedangkan akhwat tanpa mahrom bila kita pandangi itu = haram= dosa. Astaghfirullah.


Ta’aruf Dengan Pacaran, Bolehkah?
Nah, lalu adalagi istilah pacaran sebagai media mengenal(ta'aruf). Ini merupakan pergeseran pengertian karena adanya toleransi terhadap budaya buruk. Cepat berstighfar, itu merupakan isikan setan, "aku kan pacaran cuma buat mengenal", "kalo ga pacaran gimana bisa mengenal satu sama lain?" itu salah. Menurut sabda Rasulullah yang bermakna, bahwa lelaki dilarang bercampur-baur dengan wanita yang belum resmi untuknya. maka sama saja itu haram bila terikat dengan pacaran, karena condong mempermudah akses menerjang larangan yang telah diatur.
 



Adakah Pacaran Islami?
Ada lagi muncul istilah "pacaran islami". tidak lain dan tidak bukan ini merupakan bisikan setan yang secara halus dan perlahan mulai merusak mainset para pemuda Islam "pacaranku kan berbasis Islami", "kami mengingatkan kepada Allah", dll. HEI! silahkan hitung plusnya dari pacaran islami itu. Contoh, kalian saling mengingatkan untuk mengaji, apakah benar niat kalian mengaji saat itu ikhlash semata-mata karena Allah, atau hanya karena dia? apakah mengaji kalian itu akan khusyuk? tentu yang terbayang dari ayat yang kalian baca itu hanyalah raut wajah "dia" bukan keesaan Allah swt.

“Katakanlah (wahai Muhammad) kepada lakilaki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan sebagian pandangan mata mereka dan memelihara kemaluan mereka, yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Alloh Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” Dan katakanlah kepada wanitawanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan sebagian pandangan mata mereka dan memelihara kemaluan mereka” …. (Q.S. anNur [24]: 3031)
Tidak tahukah mereka bahwa wanita merupakan fitnah yang terbesar bagi laki-laki? Rosululloh shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: “Tidaklah aku tinggalkan sepeninggalku fitnah yang lebih berbahaya bagi laki-laki daripada fitnahnya wanita.” (H.R. al-Bukhori: 5096)

Segeralah Menikah Bila Sudah Mampu
Para pemuda yang sudah berkemampuan lahir dan batin diperintahkan agar segera menikah. Inilah solusi terbaik yang diberikan Islam karena dengan menikah seseorang akan terjaga jiwa dan agamanya. Akan tetapi, jika memang belum mampu maka hendaklah berpuasa, bukan berpacaran. Rosululloh shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: “Wahai generasi muda, barang siapa di antara kalian telah mampu menikah maka segeralah menikah karena sesungguhnya menikah itu lebih menjaga kemaluan dan memelihara pandangan mata. Barang siapa yang belum mampu maka hendaklah berpuasa karena puasa menjadi benteng (dari gejolak birahi).” (H.R. al-Bukhori: 5066)
Al-Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan: “Yang dimaksud mampu menikah adalah mampu berkumpul dengan istri dan memiliki bekal untuk menikah.” (Fathul Bari: 9/136)
Dengan menikah segala kebaikan akan datang. Itulah pernyataan dari Alloh subhanahu wa ta’ala yang tertuang dalam Q.S. ar-Rum [30]: 21. Islam menjadikan pernikahan sebagai satu-satunya tempat pelepasan hajat birahi manusia terhadap lawan jenisnya. Lebih dari itu, pernikahan sanggup memberikan jaminan dari ancaman kehancuran moral dan sosial. Itulah sebabnya Islam selalu mendorong dan memberikan berbagai kemudahan bagi manusia untuk segera melaksanakan kewajiban suci itu.

Nasihat

Janganlah ikut-ikutan budaya Barat yang sedang marak ini. Sebagai orang tua, jangan biarkan putra-putrimu terjerembab dalam fitnah pacaran ini. Jangan biarkan mereka keluar rumah dalam keadaan membuka aurat, tidak memakai jilbab[1] atau malah memakai baju ketat yang membuat pria terfitnah dengan penampilannya. Perhatikanlah firman Alloh subhanahu wa ta’ala:
Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Alloh adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Q.S. alAhzab [33]: 59)
Islam bukan kaku dan keras terhadap para penganutnya, hanya saja Islam tidak rela kehormatan penganutnya dirusak oleh budaya setan yang meruntuhkan. Islam bukan keras, tapi Peduli akan Kehormatanmu :)\

وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

By muhammad richard

 

0 komentar:

Posting Komentar

About this blog

fastabiqul khoirot ^_^

Total Tayangan Halaman

Assalamu'alaykum akhy wa ukhty

Assalamu'alaykum akhy wa ukhty